DIBALIK PERANG SUKU : MADURA VS DAYAK
Berita yang beredar adalah masalah pertentangan etnis antara suku Dayak
lawan suku Madura, tetapi dibalik itu ada persamaan dengan tragedi Maluku �
Ambon, tragedi Sambas, tragedi Poso dan sebagainya, dimana dikatakan bahwa
ada pertentangan suku atau agama. Yang sebelumnya merupakan pertentangan
antara pendatang BBM � Bugis Buton Makasar, padahal sebetulnya sudah ada
suatu skenario yang dilakukan oleh ICMI sepuluh tahun sebelumnya, ialah ICMI
mendapatkan posisi gubernur Maluku dengan pengangkatan Ketua ICMI Maluku :
Akib Latuconsina. Dan kemudian terjadi pengambil alihan posisi-posisi
penting di pemerintahan daerah oleh kelompok agama tertentu dengan menggeser
pejabat-pejabat yang berlainan agama. Tetapi masalah mendalam mungkin saja
kerusuhan-kerusuhan yang dilakukan oleh Kelompok yang menamakan dengan Front
agama. Kerusuhan ini kemungkinan diotaki dan diskenario oleh kelompok anti
pemerintah yang tujuannya menjatuhkan pemerintahan. Jadi gerakan ICMI-pun
mungkin bukan pokok masalah, tetapi skenario yang menungganginyalah yang
merupakan kesatuan untuk menjatuhkan pemerintah. Sayangnya tak ada usaha
pemerintah untuk secara tegas menuntaskan dan membongkar kasus-kasus
tersebut. Persis sama dengan tragedi 13-15 Mei 1998 yang didalamnya
mengandung MISTERI, siapa menunggangi siapa: mungkin saja ada gerakan
sektarian � primordialis ICMI, tetapi ICMI-pun ditunggangi oleh gerakan yang
lebih canggih. Bayangkan Letjen purn Prabowo yang diduga berat sebagai
sangat terlibat malah mampu menangkis untuk menyelamatkan dirinya : jadi
siapa menunggangi siapa ? Dan DPR mmeberikan kesempatan bagi Letjen Prabowo
Subianto mantan Panglima Kostrad untuk memberikan penjelasan bantahannya,
siapa percaya siapa ? Rumit memang dan memang ada indikasi untuk
menutup-nutupi tragedi 13 � 15 Mei 1998 yang menewaskan lebih dari 2000
rakyat kecil dan kasus perkosaan terhadap wanita etnis tertentu.
Ada persamaan dengan kerusuhan yang terjadi di Sampit, dimana kasus tersebut
dimulai dengan adanya pertentangan antara suku Dayak lawan suku Madura,
tetapi ada dugaan keras bahwa ada tumpangan ialah menjatuhkan kewibawaan
pemerintah. Dalam setiap kerusuhan selalu ada potensial untuk menjatuhkan
pemerintah : dalam hal ini pemerintahan Gus Dur. Ada suatu skenario besar
yang kait mengkait dan tujuannya ialah menyelamatkan kelompok Orba �
kelompok yang menikmati korupsi trilyunan Rupiah. Sama dengan rekayasa
Bulogate dan Bruneigate yang kemungkinan memang ditujukan untuk
menyelamatkan kelompok koruptor.
Kita saksikan bagaimana kelompok yang menamakan kelompok fanatik agama,
tetapi kemungkinan besar merupakan bagian dari suatu skenario besar yang
mempertentangkan suku, agama maupun ras dan tujuannya mengacaukan keamanan
dan tujuan sebenarnya ialah mencegah jangan sampai pemerintah mampu menjaga
kestabilan dan jangan sampai pemerintah menjadi teratur sehingga memiliki
kesempatan untuk memberantas KKN dan memberantas korupsi yang jumlahnya
ratusan trilyun rupiah , katakanlah kasus BLBI, kasus skandal dana Bulog
yang Rp 1,7 trilyun, skandal Bank Bali, skandal yang bermacam-macam yang
terjadi baik pada pemerintahan Suharto maupun pemerintahan Habibie dengan
kabinet ICMI-nya. Itulah sebabnya gembong-gembong anti Gus Dur merupakan
gabungan Golkar yang korup, ICMI yang menghabiskan kekayaan negara dan
kelompok Sektarian yang juga kelompok Orba dengan korupsi bertrilyun Rupiah.
Gembong-gembong tersebutlah yang diduga membeayai kerusuhan, demo anti Gus
Dur , kerusuhan pertentangan SARA dan mungkin juga Bom-bom Natal atau kasus
bom lainnya.
Dalam terbitannya edisi 128, tabloid Detak tahun III 28 Februari � 6 Maret
2001 banyak dibahas masalah Sampit dan ada kesimpulan bahwa Sampit merupakan
kumpulan tragedi, kumpulan kerusuhan dan skenario yang sangat luas. Mayjen
Z.A.Maulani disebut sebagai orang yang dikaitkan dengan gerakan Borneo
merdeka dan ini kemungkinan merupakan FITNAH atau suatu rekayasa yang
tujuannya mengacaukan pemerintah. Tabloid Detak mengungkapkan banyak
misteri sekitar pertemuan orang-orang Golkar dalam pembentukan Borneo
Merdeka dengan usulan kepala negaranya ialah Sultan Bolkiah. Jadi ada
skenario besar dari Jakarta, hal ini yang selalu gagal diungkapkan karena
kemungkinan keterlibatan banyak pihak penggoyang pemerintahan Gus Dur.
Mereka gagal mengumpankan Mayjen purn Z.A Maulani yang secara tegas menolak
keterlibatannya dalam gerakan FIKTIF Borneo Merdeka. Jadi ada persamaan
skenario dengan berbagai kerusuhan yang tentu saja tujuannya menggoyang
pemerintah.
Menurut Detak , awalnya adanya penggusuran 2 pejabat pemerintah daerah yang
keduanya dari suku Dayak dan penggusurnya ialah Bupati yang suku Madura
dengan menempatkan 2 orang Madura pada posisi BASAH tersebut: posisi Kepala
Pemangku Hutan dan Kepala Dinas Pendapatan Daerah. Jadi ada keharusan agar
Bupati serta kedua pejabat tersebut diperiksa dengan teliti , barangkali
keserakahan atau mungkin memang ada skenario keji. Jadi disini korbannya
ialah kedua suku tersebut : suku Madura dan suku Dayak, padahal kemungkinan
besar memang ada SKENARIO . Setiap kerusuhan selalu ditengarai dengan
kandungan unsur SARA maupun keserakahan : KKN, korupsi dan kejahatan
lainnya, pola Orba !
7 Maret 2001
Tidak ada komentar:
Posting Komentar